Kebanyakan Minum Obat Tidur Risikonya Kanker dan Mati Muda

On Selasa, 28 Februari 2012 0 komentar

Para peneliti memperingatkan terhadap penggunaan pil tidur dalam jangka waktu yang lama. Resep obat tidur dapat membantu banyak orang untuk mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan di malam hari. Tetapi penggunaan obat tidur secara rutin dan dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko kematian atau mengembangkan beberapa jenis kanker.

Sebuah hasil studi baru menunjukkan bahwa, orang yang mengambil obat tidur 4 kali lebih mungkin meninggal dibandingkan orang yang tidak mengonsumsi obat tidur sama sekali. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa, obat tidur juga berhubungan dengan peningkatan risiko untuk jenis kanker tertentu.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan secara online dalam journal BMJ Open edisi 27 Februari 2012. Obat tidur tersebut, termasuk golongan benzodiazepin, non benzodiazepin, barbiturat, dan antihistamin sedatif.

Namun, hasil studi baru tersebut hanya menunjukkan hubungan antara alat bantu tidur dan risiko kematian, tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. Sehingga beberapa ahli menyatakan bahwa, masih perlu dilakukan berbagai penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil penelitian tersebut.

"Obat tidur terkait dengan peningkatan kematian dan kanker," kata Dr Daniel Kripke, dari Scripps Clinic Viterbi Family Sleep Center, di La Jolla, California seperti dilansir dari MSNHealth, Selasa (28/2/2012).

Dalam studi baru tersebut, tim Kripke telah melibatkan lebih dari 10.500 orang rata-rata 54 tahun. Pasien tersebut memiliki berbagai kondisi kesehatan yang mendasari dan diberi resep obat tidur selama rata-rata sekitar 2,5 tahun antara tahun 2002-2007. Para peneliti membandingkan risiko pasien untuk kematian dan kanker terhadap orang yang tidak mengonsumsi obat tidur.

Risiko tersebut berlaku tanpa memandang usia, tetapi risiko yang tertinggi di antara orang-orang yang berusia 18-55 tahun. Orang yang menggunakan dosis tertinggi juga berisiko lebih besar terkena beberapa jenis kanker, termasuk kanker kerongkongan, limfoma, kanker paru-paru, kanker usus besar, dan kanker prostat.

"Namun, hubungan antara obat tidur dan peningkatan kematian dan kanker tidak dikaitkan dengan masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya," kata para peneliti.

Terdapat beberapa mekanisme yang dikenal dapat menyebabkan risiko kanker meningkat, seperti stres. Sebagai contoh, regurgitasi esofagus dapat menyebabkan kanker kerongkongan. Obat-obat tidur tersebut juga dapat memperburuk sleep apnea, dan dapat membuat orang lebih rentan terhadap jatuh dan kecelakaan mobil.

"Orang yang memakai obat tidur tidak perlu panik. Mungkin ada banyak alasan untuk peningkatan risiko kematian yang tidak ada hubungannya dengan obat tidur tetapi dengan faktor risiko lainnya yang telah terbukti. Tidur adalah hal pertama yang terpengaruh ketika seseorang berada di bawah tekanan karena sakit medis atau masalah psikologis. Sehingga obat tidur cukup aman dan efektif bila diresepkan oleh dokter sebagai bagian dari rencana perawatan yang komprehensif. Namun, penggunaan obat tidur dalam jangka panjang memang sebaiknya dihindari," kata Dr Victor Fornari, dari child and adolescent psychiatry di the Zucker Hillside Hospital of the North Shore Long Island Jewish Health System, New York.
Read more ...»

5 Cara Mencegah Gangguan Pencernaan

On Senin, 27 Februari 2012 0 komentar

Banyak orang kadang-kadang merasakan mulas dan gangguan pencernaan, terutama setelah makan besar atau banyak. Tetapi sebagian orang mendapatkan masalah pencernaan lebih sering daripada orang kebanyakan.

Kebiasaan makan yang buruk, seperti tidak cukup mengunyah ketika makan, makan di ketika larut malam dan makan sebelum aktivitas fisik yang berat dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan. Hal tersebut dapat terjadi karena menyebabkan produksi yang tidak cukup dari enzim pencernaan.


Ketika makan, tubuh akan melepaskan sekitar 22 jenis enzim pencernaan dari kelenjar saliva, lambung, dan usus kecil. Setiap salah satu dari enzim yang bekerja pada jenis makanan tertentu, misalnya protease memecah protein, amilase membantu mencerna karbohidrat, dan lipase memecah lemak dan lipid.

Dengan memecah jenis-jenis makanan tersebut, enzim-enzim pencernaan membantu tubuh mencerna dan menyerap nutrisi yang dibutuhkan. Untuk pria, penuaan juga dapat berkontribusi untuk gangguan pencernaan. Seiring dengan bertambahnya usia, tubuh mulai menghasilkan tingkat lebih rendah dari enzim pencernaan, sehingga tidak cukup untuk mencerna makanan.

Bagaimana cara untuk membantu mencegah gangguan pencernaan?

Berikut 5 cara untuk membantu mencegah gangguan pencernaan dan meningkatkan kesehatan pencernaan secara keseluruhan seperti dikutip dari FoxNewsHealth, Selasa (28/2/2012) antara lain:

1. Makan banyak serat setiap hari

Serat tidak hanya kunci untuk menjaga pencernaan, tetapi penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Sayangnya, makanan sehari-hari seringkali termasuk, junk food, daging merah, dan makanan yang tinggi lemak yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

Diet tinggi serat merupakan bagian penting dari makanan sehat, selain membantu pencernaan, juga dapat membantu mencegah diabetes, penyakit jantung koroner, wasir, kanker kolorektal, dan penyakit lainnya. Hindari makanan yang dapat menyebabkan kembung atau gas, termasuk brokoli, kacang panggang, kubis, kembang kol, dan minuman berkarbonasi.

Jika intoleransi laktosa sebaiknya menghindari produk susu atau mengambil enzim laktase untuk membantu pencernaan. Selain itu, sebaiknya juga minum banyak air, karena dapat melumasi makanan di saluran pencernaan, membantu melarutkan mineral, vitamin, dan nutrisi sehingga lebih mudah diserap, dan supaya tinja lebih lunak untuk mencegah sembelit.

2. Mengunyah makanan dengan cukup

Mengunyah merupakan salah satu bagian yang paling penting dari pencernaan, namun mungkin justru yang paling terlupakan. Mengunyah tidak hanya membantu memecah makanan, namun juga merupakan tanda dari kelenjar ludah, lambung dan usus kecil untuk mulai melepaskan enzim pencernaan.

3. Berolahraga secara teratur dan menghindari stres

Selain membantu mempertahankan gaya hidup sehat, olahraga juga dapat membantu pencernaan. Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan dalam Gastroenterology and Hepatology journal telah menunjukkan bahwa, aktivitas fisik benar-benar dapat membantu mengurangi masalah pencernaan. Stres di sisi lain dapat memiliki efek negatif pada pencernaan.

4. Jangan terlalu sering menggunakan antasida

Asam di perut membantu tubuh mencerna makanan, namun dalam beberapa kasus asam dapat kembali ke kerongkongan, sehingga menyebabkan sensasi terbakar dari gangguan pencernaan. Ketika hal tersebut terjadi, orang sering mengonsumsi antasida yang bekerja dengan menetralkan asam lambung. Namun, bila terlalu sering digunakan, antasida dapat menyebabkan perut kehilangan fungsi dan rentan terhadap infeksi bakteri.

5. Suplemen enzim pencernaan

Enzim pencernaan yang berasal dari sumber tanaman dapat membantu mempromosikan pencernaan yang baik dan bahkan meningkatkan penyerapan gizi. Dalam kasus di mana orang yang kurang cukup enzim pencernaan karena pola makan yang buruk dan kesehatan, mengkonsumsi suplemen enzim dapat mengurangi gejala gangguan pencernaan dan sakit perut.

Bahkan pada pria sehat, dengan enzim ekstra dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan. Sebuah enzim pencernaan yang baik berisi campuran amilase, lipase, selulase (untuk mencerna serat tanaman), dan protease. Enzim-enzim tersebut merupakan berbagai enzim kunci untuk mencapai pencernaan yang lebih baik dari banyak makanan.
Read more ...»

Efek yang Muncul Pada Tindikan di Lidah, Puting, Pusar & Kelamin

On Minggu, 26 Februari 2012 0 komentar

Tak hanya di telinga, menindik badan sudah menjadi hal yang umum saat ini. Meskipun menindik badan relatif aman, tindakan ini sebenarnya dapat menyebabkan komplikasi kesehatan. Berikut efek tindikan di beberapa bagian tubuh yang sering muncul.

Komplikasi bervariasi tergantung pada bagian badan yang ditindik, bahan yang digunakan, pengalaman praktisi yang menindik, kebersihan alat dan perawatan setelah ditindik.

Dalam salah satu penelitian mengenai tindik badan, para peneliti dari Northwestern University menemukan bahwa sekitar 20 persen dari tindikan menyebabkan infeksi.

Infeksi merupakan komplikasi yang paling umum, diikuti oleh alergi, perdarahan, jaringan parut dan gangguan saat menjalani prosedur medis, seperti ronsen dan USG.

"Karena tindikan semakin populer, para petugas perawatan kesehatan harus makin akrab dengan cara melepas perhiasan dalam situasi darurat, serta memahami komplikasi dan risiko kesehatannya," kata peneliti, Jaimee Holbrook, MD, pakar dermatologi di Northwestern University seperti dilansir Los Angeles Times, Minggu (26/2/2012).


Beberapa gangguan yang dialami berdasarkan tempat tindikan adalah:

1. Tindikan di bagian mulut atau lidah dapat menyebabkan kesulitan berbicara dan makan, pengeluaran air liur yang berlebihan dan gangguan pada gigi.
Tindikan di mulut dan hidung dapat tersedot bahkan masuk ke dalam badan sehingga membutuhkan operasi untuk mengambil tindikan.

2. Tindikan di puting dapat merobek kulit. Gangguan galaktorea atau air susu yang mengalir tiba-tiba dari payudara juga dapat disebabkan oleh menindik puting.

Wanita yang sedang hamil atau menyusui dan memiliki tindik atau ingin ditindik sebaiknya menyadari komplikasi langka yang dapat mempengaruhi dirinya sendiri atau anaknya.

3. Tindik pusar, menindik bagian tubuh ini sangat memungkinkan terjadinya infeksi karena iritasi dari pakaian ketat yang digunakan. Hal ini karena kulit pusar merupakan bagian yang sangat sensitif.

3. Tindikan di kelamin dapat menyebabkan kemandulan karena infeksi, mengahalangi jalannya air seni, hingga menyebabkan jaringan parut.
Pada pria, priapism atau rasa sakit ketika ereksi bisa terjadi akibat tindikan di kelamin.

4. Tindik alis, menindik bagian tubuh ini sangat berisiko jika tidak dilakukan ditempat yang tepat. Tindik harus dilakukan pada sudut 40 derajat dari sudut luar mata. Jika tempatnya tidak tepat maka berisiko mengalami kerusakan saraf, karena daerah tersebut mengandung 3 saraf supra orbital besar.

5. Tindik telinga bagian atas, menindik bagian telinga tersebut lebih berbahaya karena terdapat tulang rawan disepanjang tepi telinga. Jika terjadi infeksi di bagian tulang rawan tersebut akan lebih sulit untuk diobati dan bisa memicu kecacatan pada telinga.

Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa tindik badan bisa dijadikan sebagai penanda perilaku yang berbahaya, gejala gangguan psikologis dan ciri kepribadian anti sosial.

Untuk menghindari komplikasi, pencegahan adalah kuncinya. Orang yang ingin badannya ditindik sebaiknya mempertimbangkan riwayat medisnya dengan lengkap untuk mengetahui kondisi yang dapat menyebabkan komplikasi. Selain itu, memilih penindik badan yang memenuhi syarat juga perlu untuk meminimalkan risiko.

Dr Holbrook menyarankan bagi orang yang mau ditindik untuk mempertimbangkan sembilan hal sebagai berikut.
1. Infeksi: Apakah pernah memiliki infeksi sebelumnya?
2. Masalah kesehatan: Apakah pernah mengalami asma, gatal-gatal atau reaksi alergi yang parah?
3. Gaya hidup: Apakah sering mencopot tindik ketika bekerja atau olahraga?
4. Masalah penyembuhan: Apakah memiliki kecenderungan mengalami perbesaran organ atau luka yang tumbuh menjadi kulit baru?
5. Anatomi: Apakah bagian tubuh yang ingin ditindik sudah tepat?
6. Profesional: Apakah penindik telah cukup terlatih?
7. Riwayat kesehatan: Apakah penindik memeriksa riwayat medis dengan lengkap, termasuk riwayat alergi, penyakit sistemik, terutama penyakit jantung, diabetes mellitus atau kondisi lain yang rentan terhadap infeksi?
8. Bahan yang tepat: Apakah penindik menggunakan bahan yang sesuai, seperti perhiasan bebas nikel, untuk meminimalkan risiko alergi dan infeksi?
9. Petunjuk perawatan: Apakah mendapat petunjuk perawatan setelah ditindik? Untuk tindikan di lidah, jangan minum aspirin selama tujuh hari dan obat anti radang non-steroid setidaknya satu hari sebelum prosedur menindik dan tujuh hari setelah tindikan. Aspirin dan obat anti radang non steroid dapat meningkatkan perdarahan.

Read more ...»

Perempuan Susah Orgasme Kalau Banyak Pikiran

On 0 komentar

Ada pepatah lama dari Barat yang mengatakan organ seksual terbesar adalah pikiran. Ternyata ada benarnya, sebab pikiran atau otaklah yang merespons rangsangan seksual dan cara menanggapinya. Munculnya pikiran-pikiran negatif ketika berhubungan seks menyebabkan perempuan sulit mencapai orgasme.

Perempuan yang mengalami kesulitan mencapai orgasme saat berhubungan seks diketahui banyak memiliki pikiran negatif selama berhubungan seks. Pikiran-pikiran negatif ini bisa berasal dari kurangnya pengalaman akan hal-hal yang erotis, ketakutan akan mengalami kegagalan seksual, hingga pelecehan seksual.

"Tidak ada cara yang mudah untuk menghindari pikiran negatif. Namun, jika kita menyadari bahwa pikiran negatif itu ada, akan lebih mudah untuk belajar mengatasinya," kata peneliti, Marta Xavier Cuntim, psikolog klinis di Portugal seperti dilansir LiveScience, Minggu (26/2/2012).


Sekitar satu dari empat perempuan mengalami kesulitan untuk mencapai orgasme selama berbulan-bulan pada satu waktu. Ketidakmampuan untuk orgasme adalah keluhan seksual perempuan yang paling umum nomor dua setelah kurangnya gairah seks.

Penelitian Xavier Cuntim ini memberi pertanyaan kepada 191 orang perempuan berusia 18 hingga 59 tahun yang aktif seksual mengenai fungsi seksualnya dan pengalaman yang dialami selama berhubungan seks.

Ada enam jenis potensi pikiran negatif yang membuat gagal orgasme:
1. Pikiran mengenai pelecehan seksual
2. Kegagalan dalam berhubungan seksual
3. Kurangnya kasih sayang dari pasangan
4. Kepasifan seksual
5. Tidak memiliki sifat erotis
6. Merasa kurang cantik atau seksi.

Kesemua pikiran negatif tersebut dapat menyebabkan kesulitan mencapai orgasme, kecuali perasaan kurang cantik atau seksi.

"Penelitian kami tidak mengungkapkan apakah kesulitan mencapai orgasme kemudian akan memicu pikiran negatif atau sebaliknya. Tetapi kondisi psikologis tertentu memang dapat menyebabkan munculnya pikiran negatif," kata Cuntim.

Dalam laporan penelitian yang dimuat jurnal Sexologies ini, Cuntim menjelaskan bahwa perempuan yang mengalami disfungsi seksual seringkali terbebani secara mental.

Perempuan-perempuan ini memiliki kekhawatiran bahwa seks adalah hal yang buruk atau mereka memiliki tubuh yang tidak menarik. Pikiran-pikiran negatif itu meningkatkan risiko mengalami kesulitan dalam hubungan seksual.

Para perempuan dalam penelitian tidak secara resmi didiagnosis mengalami gangguan seksual. Sehingga, penelitian lebih lanjut terhadap perempuan yang benar-benar didiagnosis mengalami gangguan seksual diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini.

Terapi psikologis yang disebut terapi kognitif perilaku telah teruji mampu mengobati disfungsi seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan. Terapi kognitif untuk mengatasi masalah seksual bertujuan untuk mengubah cara pikir tentang hubungan seksual dan mencoba membantu orang menghadapi pikiran negatifnya.

Read more ...»

Cegah Stroke dengan Buah Jeruk

On Sabtu, 25 Februari 2012 0 komentar

Riset terbaru menunjukkan, mengonsumsi buah jeruk secara rutin dapat membantu mengurangi risiko stroke. Untuk studi ini, peneliti memusatkan perhatian pada senyawa yang disebut flavanone, yang terdapat dalam buah jeruk.

"Data ini memberikan dukungan yang kuat untuk mengonsumsi lebih banyak buah jeruk sebagai konsumsi harian untuk mengurangi risiko stroke iskemik," kata pemimpin studi Aedin Cassidy, kepala nutrisi dari Norwich Medical School, University of East Anglia, Inggris.

Ada kemungkinan bahwa flavanone dalam buah jeruk meningkatkan fungsi pembuluh darah atau mengurangi peradangan, yang telah dikaitkan dengan stroke, kata para peneliti.

Cassidy mengatakan, untuk mendapatkan manfaat maksimal dari flavanone, sebaiknya buah-buahan disajikan dalam bentuk jus dan tanpa tambahan gula.

Penelitian ini dipublikasikan secara online pada 23 Februari 2012 dalam journal Stroke, yang risetnya didanai oleh US National Institutes of Health.

Flavanones adalah jenis dari flavonoid yang selama dikenal karena kemampuannya dalam menekan kejadian risiko stroke lebih rendah. Selain buah dan sayuran, flavonoid juga banyak ditemukan dalam anggur merah dan coklat gelap.

Untuk studi ini, para peneliti berfokus pada enam subkelas dari flavonoid, termasuk flavanone.

Dalam risetnya peneliti mengevaluasi data dari U.S. Nurses Health Study selama 14 tahun. Penelitian ini melibatkan hampir 70.000 wanita, yang masing-masing melaporkan asupan makanan mereka setiap empat tahun dan termasuk rincian tentang konsumsi buah dan sayuran. Pada akhir penelitian diketahui bahwa ada sekitar 1.803 kasus stroke yang terjadi. Sekitar setengahnya mengalami stroke iskemik (tersumbatnya saluran pembuluh darah).

Peneliti mengatakan, jumlah asupan flavonoid tidak mengurangi risiko stroke, tetapi asupan flavanone dapat mengurangi risiko stroke. Wanita yang mendapatkan asupan flavanone lebih banyak memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena stroke iskemik ketimbang mereka yang mengonsumsinya dalam jumlah sedikit.

Para peneliti menemukan bahwa 95 persen konsumsi flavanone berasal dari buah jeruk dan jus, terutama jeruk orange dan grapefruit. Peserta yang memakan buah atau jus jeruk paling banyak, risiko stroke berkurang sebanyak 10 persen.

Wanita yang mendapat asupan terendah flavanone rata-rata mengonsumsi sekitar 150 miligram flavonoid per hari atau kurang. Sedangkan mereka yang mendapatkan asupan flavanone dalam jumlah banyak mengonsumsi sekitar 470 miligram sehari.

Cassidy mengungkapkan, sepotong buah jeruk mengandung 45 sampai 50 miligram flavanone.

Temuan juga menunjukkan bahwa mereka yang menjalankan diet tinggi flavonoid cenderung memiliki gaya hidup yang sehat seperti, jarang merokok, lebih sering berolahraga, makan lebih banyak serat, dan sedikit konsumsi kafein dan alkohol.

Peneliti menegaskan bahwa hubungan antara diet tinggi flavanone dan rendahnya risiko stroke tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Penelitian tambahan diperlukan untuk lebih memahami hubungan antara konsumsi flavanon dan risiko stroke, kata para peneliti. Meskipun studi ini hanya meliputi wanita, Cassidy menduga temuan akan berlaku untuk laki-laki. "Studi ini sekarang perlu dilakukan," kata Cassidy.

Gardener Hannah, seorang ahli epidemiologi di University of Miami Miller School of Medicine departemen neurologi, mengatakan penelitian ini menambah informasi kepada kita untuk mengetahui hubungan antara makanan dan risiko stroke.

"Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa semakin besar konsumsi buah dan sayur dikaitkan dengan penurunan risiko stroke," kata Gardener, yang tidak terlibat dalam studi.

"Temuan ini menggarisbawahi pentingnya asupan buah dan sayuran, sekaligus memberikan bukti bahwa buah-buahan khususnya jeruk mungkin penting dalam hal mengurangi risiko stroke," tutupnya.

Sumber :
healthdaynews
Read more ...»

Diabetes Bisa Cuma Gara-gara Malas Gosok Gigi?

On 0 komentar

Banyak dokter gigi berhasil mendeteksi penyakit diabetes seorang pasien gigi, sekalipun mungkin belum disadari oleh si pasien, yang ditandai dengan terjadinya kelainan yang terdapat di dalam rongga mulutnya. Diabetes cuma gara-gara malas gosok gigi? Apakah Anda mau mengambil risiko tersebut?

Gambaran khas penderita diabetes yang ditemukan saat pemeriksaan gigi adalah goyangan gigi dan kerusakan tulang pendukungnya yang merata di seluruh sel gigi. Sekalipun sakit gigi tidak dapat membuktikan kelainan penyakit lain secara langsung.

Apa itu diabetes melitus?

Diabetes melitus dalam istilah awam sering disebut sebagai penyakit gula, yakni penyakit di mana terjadi kekurangan hormon insulin dalam darah sehingga kadar gula dalam darah menjadi tinggi.

Lalu, apa pengaruh sakit gigi terhadap perkembangan penyakit diabetes melitus?

Sebenarnya, koneksi tersebut berasal dari kegiatan yang sangat sederhana sekali, yaitu makan. Makanan yang kita makan dan dikunyah oleh gigi akan diubah menjadi glukosa. Glukosa akan diubah menjadi glikogen dengan bantuan insulin, glikogen akan diubah menjadi glukagon. Sebagian dari glukagon akan disimpan di dalam darah dan hati.

Contoh bentuk keterikatan diabetes melitus yang dapat pula menyebabkan sakit gigi adalah makan malam. Makan malam akan meningkatkan kadar gula dalam darah secara bertahap. Kebiasaan tersebut tidak baik, apalagi bila setelah makan lupa menggosok gigi dan langsung tidur.

Berikut ini contoh sebab-akibat keterkaitan antara dua penyakit tersebut.

1. Lupa gosok gigi, lalu tertidur hingga pagi setelah makan.

Tanpa kita sadari sisa makanan yang didiamkan dalam jangka waktu panjang akan mengendap. Semakin menumpuknya endapan plak pada gigi akan membentuk karang gigi yang membuat warna gigi tidak cerah kembali, apalagi efek makanan manis yang mengandung glukosa dan zat asam.

Zat asam sangat jahat untuk kesehatan gigi. Endapan zat asam yang menguat akan mempermudah menggempur kekuatan gigi. Gigi bolong adalah salah satu hasil kejahatan zat asam.

2. Kebiasaan tidur setelah makan malam akan mengendapkan zat gula atau glukosa ke peredaran darah.

Beberapa makanan yang mengandung karbohidrat ternyata sebagian besar mengandung kadar gula. Oleh karena itu, para pengidap diabetes sangat dilarang makan malam. Pengendapan gula berlebihan inilah yang memicu terjangkitnya penyakit diabetes melitus.

3. Selain itu, kadar gula yang tinggi di dalam darah akan menyebabkan sirkulasi darah tidak begitu lancar dan sering kali diikuti dengan adanya kekentalan pada darah.

Serabut kecil pembuluh darah manusia ujung parifernya berada di ujung permukaan gusi. Keadaan inilah yang menyebabkan sirkulasi perubahan antigen di dalam tubuh. Ada produksi imunologi, seperti aktivitas kemotaksis dam netrofil yang menurun.

Keabnormalan ini ditandai dengan adanya kehilangan perlekatan gusi yang sangat cepat dan parah, disebut sebagai periodontitis agresif. Dalam kondisi ini sering ditemukan gigi-geligi yang goyang secara serempak, pada seluruh gigi yang ada. Tanda khasnya tidak adanya akumulasi plak dan kalkulus, tidak sesuai dengan kerusakan jaringan periodontal yang terjadi.

Adapun gejala utama dari diabetes, terutama di malam hari adalah:
1. Poliuria (sering buang air kecil)
2. Polidipsi (sering merasa haus sehingga banyak minum)
3. Poliphagia (sering merasa lapar
4. Lemas dan
5. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Selain gejala utama yang dialami penderita diabetes, terdapat juga kelainan di dalam mulut yang sering menyertai diabetes melitus, yaitu
1. Xerostomia (mulut terasa kering)
2. Fungsi kalenjar air liur terganggi sehingga air liur sedikit dan menyebabkan mulut berbau aseton
3. Penyakit periodontal (penyakit jaringan penyangga gigi)
4. Karena terjadi penyempitan pembuluh darah, terjadi pendarahan gusi, gusi dan rongga mulut memucat, serta infeksi pada gusi
5. Rasa berdenyut pada gigi, tanpa adanya karies gigi
6. Adanya kandidiasis alias jamur di mulut
7. Terjadinya pendiutan tulang rahang yang cepat sehingga gigi mudah goyang dan
8. Penyembuhan luka terganggu termasuk luka di dalam dan di luar rongga mulut. Hal inilah mengakibatkan radang tenggorokan dan sariawan akut.

Dengan mengetahui beberapa gejala yang berkaitan dengan komponen mulut, diharapkan kita bisa mengenali lebih dini penyakit diabetes sehingga bisa mencegah komplikasi lebih lanjut.

Sakit gigi bukanlah sesuatu yang pantas diremehkan. Sebab jika dibiarkan, kerusakan gigi serius bisa memicu timbulnya penyakit lain. Kencing manis atau diabetes merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit yang bisa hadir akibat sakit gigi yang ditelantarkan.

Pada umumnya, orang yang memiliki penyakit diabetes biasanya punya masalah dengan gigi. Hal itu diperkuat oleh studi penelitian Amerika Serikat (AS) yang menyatakan penderita kerusakan gigi kronis bisa menjadi pengidap penyakit diabetes tipe 2. Ahli diabetes dan gigi di Inggris menyetujui hasil riset itu walau perlu penelitian lebih dalam lagi.

Bakteri mudah sekali masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh pada gigi yang mempunyai kerusakan parah. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang di sebut cytokines. Cytokines inilah penyebab kerusakan sel pankreas penghasil insulin-hormon yang memicu diabetes.

Kondisi ini bersifat estafet ke beberapa penyakit yang sebetulnya tidak ada sama sekali. Sistem penularan paralel ini betul-betul dapat mempengaruhi kondisi saraf-saraf gigi semakin tegang dan perkembangan diabetes pun semakin bereaksi cepat.

Penemuan peneliti AS ini diumumkan saat simposium National Institute of Dental and Craniofacial Research di Marryland. Dr Anthony Lacopino, ahli gigi di Marquette University School of Density, Wisconsin mengatakan bahwa di dalam pankreas, sel yang bertanggung jawab sebagai penghasil insulin dirusak oleh kandungan cytokines yang tinggi. Jika ini terjadi sekali saja, seseorang berpeluang menderita diabetes tipe 2 walaupun orang itu sebelumnya dalam keadaan sehat.

Menurut Lacopino, tingginya kandungan kolesterol dari glukosa yang dibutuhkan tubuh merupakan faktor utama pemicu resiko diabetes bagi orang yang mengalami kerusakan gigi. Kolesterol rendah dapat menolong orang sehat untuk tidak terserang problem gangguan gigi yang mampu memicu diabetes.

Alangkah baiknya jika orang sehat ikut menjaga kesehatan giginya agar tidak berisiko terkena diabetes. Sementara itu, penderita diabetes sebaiknya mengikuti diet rendah kalori, rajin mengonsumsi obat pengatur hormon insulin, dan menjaga kesehatan gigi.

Radang gusi adalah jenis penyakit gigi yang paling ringan disebabkan oleh bakteri dalam plak. Ciri khasnya adalah bau mulut yang tidak sedap. Penyakit ini masih bisa disembuhkan, tetapi jika disepelekan tanpa perawatan yang lebih lanjut bisa berkembang menjadi penyakit gigi yang parah juga.

Plak yang menempel pada rongga antara gusi dan gigi mampu menimbulkan infeksi dan menyebabkan kasus serius. Bahkan pada stadium tertentu gigi harus dicabut.

Diabetes merupakan kondisi dimana tubuh tidak mampu meregulasi kandungan glukosa. Artinya, tekanan darah bisa menjadi sangat tinggi. Pengobatan dengan insulin bisa membantu mengontrol jumlah glukosa pada aliran darah.

Pada diabetes tipe 2, insulin diproduksi sangat sedikit sehingga tidak cukup jumlahnya untuk keperluan tubuh manusia. Biasanya hal ini sangat berpengaruh pada orang berusia diatas 40 tahun. Untuk mengatasinya dibutuhkan diet teratur dan mengonsumsi pil atau suntikan reguler.

British Dental Association (BDA) mengatakan bahwa segala yang terjadi di tubuh manusia selalu bisa dihubungkan dengan penyakit gangguan gigi. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa diabetes hanya salah satu gangguan kesehatan yang ada hubungannya dengan penyakit gigi.

BDA juga menyarankan agar setiap orang membiasakan menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi flouride serta mengunjungi dokter gigi secara reguler.

Sebagai informasi tambahan, lebih dari 200 juta penduduk dunia menderita diabetes. Dari hasil penelitian epidemologi, 2,4-3,75 juta penduduk Indonesia menderita diabetes melitus.

Penulis
drg. Chairunnisa Amarta Sp.BM,MNLP
Dokter gigi spesialis bedah mulut, dosen, penulis buku dan praktisi hypnodontia.
Tulisan ini disari dari bukunya 'Hypnodontia, Wawasan baru perawatan gigi'.
Read more ...»