Tampilkan postingan dengan label Diabetes Mellitus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Mellitus. Tampilkan semua postingan

Empat Syarat Cegah Komplikasi Diabetes

On Rabu, 19 Oktober 2011 0 komentar

Seseorang yang didiagnosa terkena diabetes sebenarnya tidak perlu terlalu risau akan kemungkinan komplikasi penyakit yang dapat ditimbulkan dari tingginya kadar gula dalam darah. Asal semua terkontrol dengan baik, tentunya kualitas hidupnya juga akan baik.
Demikian disampaikan Budiman, spesialis penyakit dalam dari Divisi Endokrinologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) dalam diskusi publik bertajuk Mata Sehat Cegah Kebutaan Akibat Diabetes, di Kedai Tempo, Rabu, (19/10/2011).
Menurut Budiman, ada beberapa sarat tertentu agar pasien penderita diabetes tidak mengalami komplikasi penyakit seperti jantung, hipertensi, stroke, ginjal dan retinopati diabetik.  


Pertama, pasien harus selalu mengontrol tekanan darah  jangan sampai di atas batas normal.  Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai normal. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih. Menurut Budiman, orang dengan diabetes yang menderita tekanan darah tinggi, tensinya harus selalu dijaga tidak boleh lebih dari 130/80 mmHg. 

Kedua, selalu  berupaya mengontrol kadar gula.  Untuk memelihara kadar gula darah normal dalam tubuh, sebaiknya dibiasakan mengatur kalori dengan membatasi konsumsi makanan yang manis-manis dan asupan karbohidrat. Pada orang normal, kadar gulanya berkisar 60-120 mg/dl.
"Gula darah puasa tidak boleh lebih dari 100 mg/dl. Habis makan gula darah jangan lebih dari 140 mg/dl," katanya. 

Syarat ketiga adalah selalu mengendalikan kolesterol. Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Pola makan sehat merupakan faktor utama untuk menghindari hal ini. Batas normal kolesterol dalam tubuh adalah 160-200 mg/dl. Tidak semua kolestrol berdampak buruk bagi tubuh. Hanya kolestrol yang termasuk kategori LDL saja yang berakibat buruk.

Budiman mengatakan, untuk kadar kolestrol LDL sebaiknya jangan lewat dari 100 mg/dl. Semakin rendah kadar LDL, semakin kecil risiko Anda terkena serangan jantung dan stroke.
Syarat keempat adalah menjaga berat badan ideal.  Budiman menuturkan, idealnya seorang wanita tidak boleh mempunyai lingkar perut lebih 80 cm, sedangkan pria jangan lebih dari 90 cm. Kalau itu semua bisa diatur, maka komplikasi sangat bisa untuk dicegah.
"Pola hidup yang sehat adalah bagaimana kita bisa mengatur makanan. Kita harus berpikir makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan," katanya.
Read more ...»

Komplikasi Diabetes Picu Kebutaan

On 0 komentar


Mereka yang mengidap diabetes harus berhati-hati dengan ancaman komplikasi penyakit. Komplikasi diabetes tak cuma akan menyerang multi organ seperti stroke, hipertensi, jantung, dan ginjal, tetapi juga dapat mengakibatkan kebutaan.
Menurut Ari Djatikusumo dari Departemen Kesehatan Mata divisi Vitreo Retinal Surgery Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), orang dengan diabetes, harus mewaspadai komplikasi terjadinya retinopati diabetik (RD). RD adalah penyebab utama kebutaan pada penderita diabetes.


"Banyak orang dengan diabetes tidak tahu komplikasi penyakit ini yang ternyata bisa juga bisa merusak retina mata. Jadi retinopatik diabetik itu suatu paket dari komplikasi diabetes yang mempengaruhi pembuluh darah kecil di salah satu bagian mata, yaitu retina," katanya dalam diskusi publik : Mata Sehat Cegah Kebutaan Akibat Diabetes, di Kedai Tempo Jakarta, Rabu, (19/10/2011).

Ari menuturkan, walaupun belum ada data pasti mengenai jumlah penderita RD di Indonesia, namun ia mengatakan, berdasarkan hasil skrining terhadap pasien dengan diabetes di RSCM, sebesar 30 persen menunjukkan ada kelainan pada mata. Pada tahap awal, RD tidak akan mempengaruhi pengelihatan. Namun jika dibiarkan berkembang maka pengelihatan akan terganggu.

"Kalau sudah parah akan muncul gejala penurunan pengelihatan, sampai pada kondisi buta mendadak. Jadi kalau sudah ada kelainan di mata, diabetesnya sudah parah," katanya.
Ari mengatakan, untuk mengurangi risiko kebutaan akibat RD, masyarakat harus fokus dan peduli untuk melakukan upaya deteksi dini. Misalnya, mengendalikan kadar gula darah, kendalikan tekanan darah, periksa mata dan diabetes secara berkala. Jika seseorang sudah mengalami kerusakan pada pembuluh darah di retina, maka tidak ada harapan untuk dapat melihat normal seperti sedia kala.
"Disarankan, jangan hanya mengontrol gula saja, tapi organ-organ yang umumnya terlibat harus di cek, salah satunya mata. Diharapkan dengan sosialisasi ini ada awareness dari masyarakat untuk memeriksakan matanya," jelasnya.

Selain retinopati diabetik, diabetes juga bisa menyebabkan penyakit mata lain seperti katarak dan glaukoma. Namun kabar baiknya, mereka yang sudah terlanjur terkena retinopati diabetik bisa dibantu dengan tatalaksana laser. Perlu diingat, laser bukan untuk menyembuhkan tetapi untuk mencegah supaya tidak timbul keparahan yang lebih jauh.
Untuk melakukan tindakan laser, kata Ari, harus memperhitungkan beberapa indikasi misalnya, jika terjadi pembengkakan retina dan kerusakan pada bagian pusat retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus.

"Tatalaksana laser hanya membantu menstabilkan perubahan retina mata yang disebabkan diabetes. Tatalaksana laser tidak dapat meningkatkan tingkat pengelihatan, tapi dapat mencegah tingkat keparahan," tandasnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 4,8 persen dari 37 juta manusia bisa menjadi buta diakibatkan oleh retinopati diabetik. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat dalam 20 tahun ke depan.



Read more ...»

Mengenal Diabetes dan Jenis Jenis Diabetes Sejak Dini

On Minggu, 02 Oktober 2011 0 komentar

Penyakit diabetes sering dijuluki dengan ”silent killer”. Seringkali orang terlambat mengetahui bahwa dirinya telah menderita penyakit diabetes. Karena itu, diperlukan pengetahuan mengenai penyakit ini, termasuk jenis jenis diabetes.
Diabetes merupakan penyakit dimana tubuh mengalami kelainan metabolisme yaitu dalam hal mengolah makanan menjadi sumber energi dan pertumbuhan.
Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diolah menjadi sumber energi bagi tubuh. Di dalam lambung dan usus, sebagian besar makanan akan diuraikan menjadi glukosa yang merupakan sumber energi utama bagi tubuh.
Glukosa yang telah terbentuk melalui proses pencernaan selanjutnya akan terbawa oleh aliran  darah dan selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan dan sumber energi oleh sel tubuh. Proses masuknya glukosa ke dalam sel tubuh dapat terjadi hanya jika terdapat insulin, yaitu hormon yang dihasilkan oleh pankreas, kelenjar besar yang terletak di belakang lambung.
Saat seseorang menderita penyakit diabetes, kasus yang terjadi adalah insulin yang diproduksi pankreas terlalu sedikit, tidak ada insulin  yang diproduksi, atau bisa juga sel tubuh  tidak merespon  hormon insulin yang telah dihasilkan oleh pankreas. Akibatnya, glukosa yang seharusnya diserap oleh tubuh menjadi tertimbun dalam darah dan menyebabkan penyakit diabetes.
 

Jenis Jenis Diabetes

Diabetes dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu :

• Tipe 1
Pada penderita diabetes jenis 1, sel-sel beta pankreas penghasil insulin tidak lagi memproduksi insulin atau hanya memproduksi sedikit insulin. Diabetes type 1 sering ditemukan terjadi pada anak-anak dan remaja.

Penyebab :
  1. Adanya faktor keturunan atau genetika
  2. Adanya faktor auto-immune yaitu sisitem kekebalan tubuh menyerang dan merusak sel beta pankreas tempat insulin diproduksi.
  3. Adanya virus atau zat kimia yang merusak kumpulan sel di dalam pankreas
Perawatan :
  1. Melakukan suntikan insulin
  2. Memperbaiki fungsi kerja pankreas
• Tipe  2
Salah satu dari jenis jenis diabetes adalah diabetes tipe 2. Penyakit ini merupakan jenis diabetes yang paling banyak ditemui dan dapat diderita oleh sembarang umur.

Kasus yang terjadi pada penderita jenis 2 ini adalah sel tubuh tidak dapat memanfaatkan hormon insulin dengan baik. Selanjutnya setelah beberapa tahun, akan terjadi penurunan produksi insulin. Akibatnya, glukosa tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh dan  hanya menumpuk di dalam darah.

Penyebab :
  1. Faktor genetik atau keturunan
  2. Pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.
  3. Tingginya kadar kolesterol
  4. Jarang melakukan olah raga
  5. Kelebihan berat badan (obesitas)

Perawatan :
  1. Memperbaiki fungsi kerja pankreas. Dalam banyak kasus, dirangsang dengan meminum pil (bukan insulin). Namun hal ini tidak bisa dilakukan terus menerus.
  2. Memperbaiki pola makan dan menerapkan gaya hidup sehat
  3. Melakukan diet yang sesuai dengan jenis penyakit karena lemak dalam tubuh dapat menyerap insulin
  4. Melakukan olahraga secara teratur
• Diabetes gestational (masa kehamilan)
Diabetes jenis ini biasanya hanya terjadi pada masa kehamilan, namun ada juga kemungkinan berkembang setelah bayi dilahirkan. Diabetes jenis ini disebabkan oleh hormon kehamilan atau kurangnya hormon insulin selama masa kehamilan.

Gejala Umum Diabetes

Walau jenis jenis diabetes terdapat lebih dari satu, umumnya semuanya memiliki gejala yang sama. Biasanya orang yang menderita diabetes tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita diabetes, terutama penderita diabetes tipe 2. Karena itu sangatlah penting untuk mengetahui gejala-gejala umum diabetes.
Gejala-gejala diabetes yang sering terjadi antara lain:
  • Merasa sering haus / haus yang berlebihan
  • Sering buang air kecil
  • Mengalami penurunan berat badan secara tiba-tiba
  • Merasa sering lapar, lelah, pening / pusing
  • Mengalami gangguan  penglihatan
  • Kulit terasa kering dan gatal-gatal
  • Mati rasa atau geli di kaki
  • Mudah terkena infeksi atau luka yang lama sembuhnya
Pada diabetes tipe 1, gejalanya berkembang dalam waktu yang singkat. Namun pada diabetes tipe 2, gejalanya berlangsung sangat lambat sehingga tidak disadari oleh penderitanya. Karena itu, apabila merasa memiliki gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas, sebaiknya segeralah periksakan diri ke dokter.

Pengobatan:

rekomendasi dokter di indonesia :
dengan herbal tricajus karena tricajus herbal ajaib yang mempunyai adaptogen yg sangan kuat. info herbalnya klik di sini atau di website ini www.tricajusherbalajaib.com

BEBERAPA TESTYMONI DIABETES SEMBUH BISA DI BACA DI :

Semoga artikel ini bermamfaat.
Read more ...»

Komplikasi dalam Jangka Panjang Diabetes Mellitus

On Kamis, 04 Agustus 2011 0 komentar

Bila Anda memiliki diabetes mellitus, pengendalian gula darah secara disiplin adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Anda harus melakukannya. Glukosa darah yang tinggi terus-menerus dapat menimbulkan komplikasi berupa kerusakan pembuluh darah kecil (efek mikrovaskuler) dan pembuluh darah besar (efek makrovaskuler). Kerusakan pada masing-masing jenis pembuluh darah itu menimbulkan gejala dan keluhan yang berbeda. Sebagian penderita diabetes kronis mengalami kerusakan pada kedua jenis pembuluh darah, sebagian lainnya hanya mengalami kerusakan pada salah satunya.


1. Efek mikrovaskuler

Gejala kerusakan pembuluh-pembuluh darah halus terutama terjadi pada mata, ginjal, dan saraf:
  • Kerusakan retina mata (retinopati). Ada jutaan pembuluh darah kecil (kapiler) di retina mata yang dapat rusak oleh glukosa darah yang terus-menerus tinggi. Retina adalah lapisan tipis di bagian belakang mata.  Fungsinya adalah mengubah cahaya yang masuk mata menjadi sinyal saraf yang dikirim ke otak. Kerusakan retina terjadi secara bertahap. Pada awalnya, pembuluh darah di mata menjadi lebih besar di tempat-tempat tertentu (disebut mikroaneurisma). Pembuluh darah juga bisa tersumbat dan pecah sehingga cairan bisa bocor ke retina. Pada tahap selanjutnya, pembuluh-pembuluh darah baru mulai tumbuh di mata. Pembuluh tersebut rapuh dan mudah mengalami perdarahan. Bekas luka yang awalnya kecil kemudian terus berkembang, baik di retina dan di bagian lain dari mata (vitreous).  Akibatnya, berbagai masalah penglihatan seperti kehilangan ketajaman, kehilangan penglihatan warna, dan bahkan kebutaan total dapat terjadi. Yang terakhir ini terjadi ketika pembuluh- pembuluh darah kecil bocor parah sehingga darah mengalir deras keluar dan menutupi sebagian besar retina. Sel-sel retina menjadi rusak permanen. Manifestasi spesifik dari kerusakan pembuluh kapiler di mata pada penderita diabetes disebut retinopati diabetik. Tingkat keparahannya sangat bervariasi pada masing-masing orang.
  • Kerusakan ginjal (nefropati). Di ginjal, proses yang sama terjadi terhadap jutaan filter sangat halus yang disebut glomerulus (jamak: glomeruli). Filter tersebut dalam kondisi normal terdiri dari pembuluh-pembuluh darah sangat halus yang secara selektif meloloskan sampah dari pembuluh darah dan mengumpulkannya di dalam urin, sementara zat-zat berguna dalam darah seperti protein, antibodi, dan lainnya ditahan untuk dikembalikan ke dalam aliran darah. Akibat diabetes kronis, pembuluh-pembuluh darah di glomeruli mengalami kebocoran sehingga meloloskan zat-zat yang berguna ke dalam urin. Selain itu, sel-sel pembentuk glomeruli mulai mati. Kondisi ini disebut nefropati diabetik. Bila berlanjut, kerusakan jutaan glomeruli ini menyebabkan gagal ginjal. Diabetes adalah salah satu penyebab paling umum terjadinya gagal ginjal.
  • Kerusakan saraf (neuropati). Neuropati diabetik adalah komplikasi umum dari diabetes. Sekitar 50% penderita diabetes pada akhirnya mengembangkan kerusakan saraf. Kerusakan ini dapat bersifat sementara atau permanen. Kerusakan saraf yang disebabkan oleh penurunan aliran darah dan kadar gula darah tinggi tersebut dapat memengaruhi saraf di tengkorak (saraf kranial) atau saraf di kolom tulang belakang dan cabang-cabangnya. Penderita komplikasi neuropati diabetik lebih mungkin untuk mengalami cedera kaki. Hal itu karena mereka tidak merasakan sakit, panas, dingin, atau tekanan di kaki akibat matinya sensor saraf. Bila kaki mereka terluka, mereka tidak menyadarinya sehingga berkembang menjadi infeksi. Neuropati diabetik otonom memengaruhi saraf yang mengatur fungsi organ vital, termasuk jantung dan lambung.

2. Efek makrovaskuler

Gula darah yang tinggi mempercepat proses aterosklerosis pada pembuluh-pembuluh darah besar seperti aorta, arteri koroner, atau arteri yang memasok darah ke kaki dan otak. Akibatnya, risiko serangan jantung dan stroke jauh lebih besar pada penderita diabetes daripada non-penderita yang memiliki usia, ras, berat badan, dan jenis kelamin yang sama.

----------------------------------------------------------------------------------


Read more ...»